K O R N E A
March 29, 2009
Created by : Fania Lamika
Zanika masih duduk di depan jendela dengan tetap memandangi sekitarnya. Sudah lama ia tidak memandangi dunia yang indah ini dengan kedua bola matanya. Kini dia dapat memandangnya kembali dengan tatapan luas. Dan tentunya dengan kornea mata orang lain, setelah operasi yang dia lakukan selama sebulan ini. Ya ! selama 3 tahun dia hanya dapat melihat kegelapan dan hanya bisa mengenali sesuatu dengan cara meraba. Zanika buta !!!!
Semua itu berawal 3 tahun yang lalu, saat kecelakaan merenggut nyawa kakaknya dan membutakan mata indahnya dan tentunya juga merubah sikap cerianya menjadi kemuraman setiap harinya. Semenjak saat itu juga, dia harus memulai kehidupan barunya, kehidupan yang penuh kegelapan. Kehidupan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, dan sempat membuatnya putus asa untuk melanjutkan hidupnya. Tapi itu semua bisa hilang dan justru berganti dengan keceriaan dan kebahagiaan yang sangat memulihkan kehidupannya. Shadat. . . . .
Semenjak pertemuan yang tidak disengaja itu, Zanika merasa Shadat lah penyemangat hidupnya. Zanika bisa kembali menjadi anak yang ceria dan selalu melakukan hal baru seperti dulu, tapi tentunya kali ini dibantu oleh Shadat. Zanika dapat belajar banyak hal baru dari Shadat, tentang kehidupan, cinta dan semua yang sempat hilang dalam khayalan masa depan Zanika sebelumnya, semua dapat dipulihkan kembali oleh Shadat.
“Kekurangan bukan halangan untuk hidup Zanika, karena kita masih punya cinta. Karena cinta, kita bisa –smile in your life-.” Satu kalimat yang nggak pernah hilang dari benak Zanika. Tapi … “Ya ampun ! Shadat dimana ?? aku kan belum ngabari dia kalau aku udah pulang dari rumah sakit.”
Zanika segera meraih HP-nya dan meminta nomor Shadat pada mamanya, dan segera menghubungi Shadat. Tut tut tut. “Lho kok nggak bisa dihubungi ya ?!, aku ke rumahnya aja dech”, Lanjut Zanika.
Dengan diantar Pak Udin, supir keluarga Zanika, yang memang pernah mengantarkan Zanika ke rumah Shadat sebelumnya. Zanika pun tiba di rumah Shadat. Tapi . . . . “RUMAH INI DIJUAL”
Zanika sudah disambut dengan tulisan tersebut di depan pagar rumah Shada. Zanika terkejut, “Pak, masih ingat rumah kakaknya Shadat kan? Antar saya sekarang ke sana ya”, lanjut Zanika setelah itu. “Baik, non.”
Sesampainya dirumah kak Icha, kakak Shadat .
“Ec! Ngapain kamu ke sini !!” teriak kak Icha mengejutkan Zanika.
“Kak, saya Zanika. Kakak masih ingat kan ?”
“Nggak, nggak, nggak. Pulang kamu !”
“Kak, kakak kenapa ? Zanika ke sini mau cari Shadat kak.”
“Kamu tu gila ya!! Nyari Shadat ke sini!! Udah, pergi sana !!”
Lagi-lagi Kak Icha teriak dan kali ini sembari menutup pintu rumahnya. Zanika bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi Pak Udin segera menenangkan majikan kecilnya itu.
“Tenang non, mungkin Den Shadat sama kakaknya lagi ada masalah, makanya dia marah kalau non nyariin Den Shadat ke sini.”
“Iya juga ya pak, yaudah dech, Kita pulang aja. Besok kita Tanya temennya aja. Shadat tinggal dimana sekarang”, ujar Zanika.
Di mobil, di perjalanan pulang. “Mudah-mudahan besok Zani bisa ketemu Shadat ya pak. Zani kangen banget. Udah 1 bulan Zani nggak ketemu. Terakhir waktu dia nganterin Zanika ke Rumah Sakit untuk operasi ni mata. Abis itu, dia nggak ada hubungi Zani lagi. Zani denger sich dia sibuk ya pak buat ujian di kampusnya?”
“Mungkin non. Biasa, kan anak kuliahan.”
“Iya juga ya pak. Kasian dia. Padahal kata mama Dia juga yang nyariin kornea mata untuk aku.”
“Dia emang cowok yang baik non.”
Iya pak. Emang baik banget. He he he …”
Keesokan harinya.
“Thanks ya Qy, atas infonya, kalau nggak ada kamu. Aku bingung harus nyari rumah Shadat kemana lagi”, ujar Zanika dari telepon genggamnya.
“Iya. Sama-sama Zan. Aku seneng bisa Bantu kamu. Tapi, oh ya, aku tao alamat rumah baru ortu Shadat itu, kira-kira sebulan yang lalu. Waktu aku nganterin Shadat pulang. Mudah-mudahan mereka nggak pindah lagi, kayak hobinya ortu aku ni”, Jelas Qiky panjang lebar.
“Iya, mudah-mudahan banget dech. Abis aku pengen banget ketemu Shadat, Qy. Yaudah, thanks ya Qy, bye.”
“Bye.”
Zanika segera bersiap dan pergi menuju alamat yang telah di dapatnya dari teman Shadat tersebut. Setibanya disana Zanika melihat seorang lelaki tua duduk di kursi rotan sambil membaca Koran. Ya, itu papanya Shadat. Zanika senang melihatnya dan segera menghampiri laki-laki itu.
“Siang om”, Zanika memberi salam dan menjabat tangan laki-laki itu. Tapi sebelum Zanika sempat menjabat tangan itu. Tangan itu mengelak dan papa Shadat berdiri dengan wajah geram.
“Ngapain kamu ke sini lagi! Nggak cukup kamu buat anak saya menderita dan melakukan tindakan bodoh hanya untuk kamu!”
“Maksud oom apa? Zanika nggak ngerti om!”
“Udah, pergi kamu dari sini!” teriak lelaki itu sambil mendorong Zanika keluar pagar. Tapi tiba-tiba keluar seorang wanita dari dalam rumah itu sambil berlari kecil menghampiri Zanika.
“Zanika . . .”, teriak wanita itu sembari berlari menuju ke arah Zanika.
“Tante . . “, balas Zanika sambil memeluk wanita itu. Tapi tiba-tiba wanita itu melepas pelukannya dan segera membelai wajah Zanika dan membelai dengan penuh kasih sayang pada mata Zanika.
“Tante bisa melihatnya Zanika. Dia bahagia, walaupun dia sudah tidak bersama kita lagi”, ujar wanita itu sembari tetap membelai mata Zanika.
“Tante ngomong apa?”, Zanika bertanya sambil tetap menangis.
“Tante bisa melihat mata Shadat, mata ini, mata Shadat, Tante kangen sayang.”
“Maksud Tante apa!”, Zanika terkejut dan langsung melepaskan tangan wanita itu.
“Ya, itu mata Shadat. Kornea Shadat yang ada di mata kamu, Zani.”
“Apa!!!!”, Zanika tiba-tiba seperti merasakan hentakan petir menerpa tubuhnya di siang hari yang panas ini. Seketika itu juga Zanika merasakan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Zanika pingsan ..!!!
Setelah Zanika sadarkan diri, dia kembali berteriak histeris dan memanggil-manggil Shadat. Mama Shadat segera memeluk Zanika. Zanika tampak mulai bisa menenangkan dirinya.
“Zani, jangan menangis. Relakanlah Shadat, sayang”.
“Tapi kenapa Shadat melakukan semua ini Tante?”
“Cinta. Semua ini karena cinta. Dia sangat menyayangi kamu Zani. Tujuh bulan lalu, saat check up rutinnya, dia di vonis dokter umurnya tinggal enam bulan lagi akibat kanker otaknya yang dideritanya semenjak 3 tahun yang lalu. Saat 6 bulan berlalu. Malam itu dia bilang sama Tante, kalau dia sudah capek. Dan dia juga mengutarakan niatnya untuk menyumbangkan korneanya untuk kamu. Awalnya Tante bingung harus gimana, tapi dia tetap memaksa. Tiga hari setelah dia dan kamu operasi kornea tersebut, dia meninggalkan kita semua. Walaupun awalnya itu semua berat buat Tante dan Om. Tapi Tante yakin, kini dia bahagia di sana, bisa melihat orang yang dicintainya dapat melihat kembali”, terang wanita itu panjang lebar.
“Zanika sayang Shadat Tante. Shadat, makasih”, Zanika kembali meneteskan air matanya, air mata dari kornea Shadat juga.
Dan semuanya kembali gelap bagi Zanika. Zanika pingsan lagi! Tapi kali ini, dia dapat merasakan kehadiran bagian Shadat di dalam jiwanya yang kini harus hidup tanpa Shadat.
***
Fania Lamika IX.4